Rabu, 09 Mei 2012

Menunggu dalam Penantian


Seiring pertambahan usia yang ada pada seorang insan,maka semakin dituntutlah kedewasaannya. Memang tidak sedikit pula orang-orang yang memiliki usia dewasa, namun memiliki pemikiran masih anak-anak remaja, hal ini akan terlihat dari caranya dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan hidup. Benarlah kata seorang guru bahwa tua itu pasti, namun dewasa adalah pilihan..

Terinspirasi dari sahabat yang sedang galau dalam memilih dan menanti sang pujaan hati, maka tulisan ini aku buat untuk mereka. Sebelumnya syukron ya bagi sahabatku yang sudah menginspirasi, dan  bagi siapapun yang merasa saja..^^

Untukmu yang sedang dalam proses “menjaga” dan berharap tuk senantiasa dalam penjagaan-NYA, semoga Allah senantiasa meneguhkan dan memberikan kesiapan semuanya dalam menghadapi waktu yang tepat menurut-NYA, sehingga indah pada saatnya..^^

Saat komitmen terhujam dalam proses “menjaga” maka hal ini merupakan keputusan yang besar dan sungguh tidak mudah. Karena tantangan kedepannya, bukan lagi mengenai diri sendiri melainkan paradigma dilapangan, begitu  banyak yang menghalalkan pacaran dan disisi lain ada pula yang berkomitmen “menjaga” untuk tidak melakukannya. Memang hidup adalah pilihan…^^

Dan  benar, semakin beranjak usia dari remaja menuju dewasa, maka akan banyak hal baru yang ditemukan serta kompleksitas permasalahan yang dihadapi pun semakin beranekaragam. Disaat-saat seperti itu, maka sunatullahnya seorang insan membutuhkan sahabat sharing, dan hal ini sangat penting.  Mengapa? Karena selain manusia diciptakan sebagai makhluk individu, manusia pun diciptakan sebagai makhluk social yang membutuhkan interaksi dengan orang lain dan membutuhkan perhatian, pengertian serta kasihsayang sehingga terbentuklah individu yang lebih baik karena orang-orang tersayang yang selalu disampingnya. Bukankah Adam pun tak dapat hidup tanpa Hawa…^^

Ada kata-kata dari seorang guru kehidupanku, beliau berkata dalam bahasa sunda, jika hubungan dua insan dimulai dengan “bobogohan” (pacaran) maka berajak ke “ninikahan”(nikah) dan selanjutnya menghasilkan “aanakan”(anak yang dianggap mainan), beliau menyimpulkan bahwa semua alurnya dimulai dari “boongan” maka akan mudah untuk mengakhirinya serta menghasilkan anak yang seperti mainan dan kurang perhatian, sehingga tidak sedikit di masyarakat ini yang bercerai karena permulaannya dimulai dengan kebohongan.. wallahu a’lam

Kembali lagi dengan konteks “menjaga”, sungguh tidaklah mudah. Karena dengan “menjaga” ini, artinya banyak hal yang harus dipersiapkan diantaranya niat yang kuat, hati yang tulus,ilmu,harta dan cinta yang didasarkan pada sang  Maha Cinta,,,

“menjaga” dan “menunggu” memang bukanlah suatu kegiatan yang menyenangkan. Namun, jika disikapi dengan bijak,keduanya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam “mempersiapkan”. Kata ustad salim.A fillah, Kerenkan Diri menunggu pujaan hati hingga Happy Ending full Barokah,,^^

“menjaga” dalam hening dan diam, Sehingga saat waktu itu tiba, siaplah semuanya…^^
Hingga suatu saat nanti teriringlah lafadz janji suci diantara keduanya, dan bersatulah mereka, berlabuh dan merangkai mimpi bersama, bagai sebuah kapal yang siap berlayar dengan semua perbekalan yang mencukupi yang siap menembus badai,angin serta ombak di lautan. Saling melengkapi dan melangkah bersama dengan segala kekurangan yang ada pada keduanya.  Bagai untaian nada-nada yang dihasilkan oleh gesekan  biola meskipun kedua permukaannya kasar namun setelah di satukan menghasilkan nada yang begitu indah.

Semangat mempersiapkan… dan sambut waktunya nanti dengan penjagaan dan kefitrahan cinta karena saling menjaga karena-NYA.. Barakallahu fiik!^_^

Teriring sebuah untaian lagu:
Bila yang tertulis oleh-NYA, engkau  yang terpilih untukku
Telah terbuka hati ini menyambut cintamu
Disini segalanya kan kita mulai mengukir buaia rindu yang tersimpan dulu tuk menjadi nyata dalam hidup bersama
Selamat datang di separuh nafasku..
Selamat datang.. dipertapaan hatiku..
Izinkan aku, tuk mencintaimu menjadi belahan didalam jiwaku..
Ya Allah, jadikanlah ia pengantin sejati didalam hidupku..izinkan aku..
Wahai yang dicinta telah kurela hadirmu temani relung hatiku, simpanlah jiwaku dalam doamu
nafasku dalam hidupmu kan ku jaga setiamu
Izinkan aku, tuk mencintaimu jadi belahan didalam jiwaku,,
Ya Allah,,Jadikanlah ia, pengantin sejati didalam hidupku,,izinkan aku..
Apapun adanya dirimu, kukan coba tetap setia
Begitu pula dirimu terimalah dengan apa adanya..
(Belahan Jiwa, Maidany)

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

"Sebuah Penyesalan" (Kisah Nyata)

Suamiku kini telah tiada dan penyesalanku yg terus ada

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku

Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.

Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi kini aku tahu.
Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya. Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.
Dia berkata, “ Setiap kali kami ajak dia makan siang, mas Anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ Aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”

Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku pada suamiku, aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi:

“ Perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin, sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”

Membaca itu, benar-benar baru kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku. betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ Ibu capai? Istirahat dulu saja”
Dengan kasar kukatakan, “ Ya jelas aku capai, semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak, ayah tahunya ya pulang datang bersih. titik.”
Sungguh,bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku:

“Pak kenapa cari klinik yang termurah? Saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula.”

Dan suamiku menjawab, “ Tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja, aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”

Tuhan..Maafkan hamba Tuhan, hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.

Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.

Banggalah pada suamimu, karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.

Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.

Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

(Sumber : Rina's note)

-Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Dan kepada Ibu Rina semoga lebih tabah, dan kepada Alm. Bpk. Anwar semoga diberikan tempat terbaik di surga…amin.
Dari kisah ini saya harap tidak ada yg menyalahkan siapa2.cukup sebagai renungan dan perbaikan kita bersama.)

Terimakasih telah membaca...
Salam Motivasi!

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Kisah Nyata : ... KEIKHLASAN HATI MELAHIRKAN KEAJAIBAN ...



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi pada seorang laki laki dari Madinah Nabawiyah beberapa tahun yang lalu. Lelaki tersebut telah mendekati umur 48 tahun. Takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan dia terkena gagal ginjal. Saat dia mengetahui kabar tersebut dia menerima dengan jiwa yang sabar dan penuh keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah dokter mengabarkan bahwa dia terkena gagal ginjal, anak-anaknya pun mengkhawatirkan dirinya, dan mereka berkata, “Kami akan mendonorkan sebuah ginjal untukmu,” namun sang ayah menolak siapapun yang akan mendonorkan ginjalnya untuknya.

Salah seorang teman anak-anaknya memberikan usul agar mereka pergi ke Mesir untuk membeli ginjal. Akan tetapi sang ayah benar-benar menolak usul tersebut. Setelah berulang kali dibujuk akhirnya sang ayah menyetujui usul tersebut.

Maka merekapun pergi ke Mesir, di sanalah kemudian dilakukan diagnosa ginjalnya, dan mereka membandingkan hasil diagnosa ginjalnya dengan diagnosa para pendonor, namun sama sekali tidak ada yang sesuai. Setelah pencarian yang panjang, mereka mendapatkan pendonor yang hasil diagnosanya sama dengan diagnosa sang bapak.

Kemudian selesailah tawar-menawar penggantian ginjal antara pendonor dengan anak-anak sang bapak tersebut. Mereka mencapai kesepakatan dana hingga mendekati 15 ribu dollar (sekitar Rp 140 juta). Anak-anak itupun membayarnya tunai kepada pendonor sebelum dilakukannya operasi sesuai dengan kesepakatan.

Di pagi hari dilakukannya operasi, sang bapak meminta untuk menemui sang pendonor. Maka anak-anak mengabarkan kepadanya bahwa tidak perlu mengadakan pertemuan ini. Akan tetapi sang bapak mendesak untuk bertemu dan berterima kasih kepadanya. Setelah debat keras, akhirnya anak-anak itupun menyetujuinya. Maka merekapun mengantarkan sang bapak kepada pendonor.

Di sinilah, yang mengagetkan, ternyata sang pendonor adalah seorang gadis berusiai 17 tahun.

Sang bapak terpukul keras karena kejadian ini. Dia tidak pernah membayangkan bahwa sang pendonor adalah seorang gadis seusia ini. Sementara itu, ia membayangkan kalau pendonornya adalah seorang laki-laki tua. Di depan kejadian mi, sang bapak tidak mampu berkata-kata apapun. Namun setelah beberapa saat dia bertanya kepada gadis tersebut: ‘Apa yang memaksamu untuk mendonor?’. Diapun menjawab“Kemiskinan.”

Jelaslah bagi sang ayah itu bahwa gadis ini menanggung dua saudara laki-laki dan satu saudari perempuannya yang kecil setelah kematian kedua orangtuanya.

Setelah sang bapak itu mengetahui keadaan gadis tersebut dia berkata,“Demi Allah, aku tidak melakukan operasi”.

Anak-anaknya dibuat kaget oleh sikap bapaknya. Anak anak itupun mencoba membujuk bapaknya, akan tetapi sang bapak menolak dengan keras.

Mereka mengabarkan bahwa dana telah dibayarkan, dan tidak mungkin memintanya kembali.

Maka sang bapak berkata,”Siapa yang berkata bahwa aku akan memintanya kembali? Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya, aku ikhlas dan harta itu halal untuknya”.

Sang bapak pun meminta kepada mereka untuk kembali dengan segera ke Saudi. Mereka pun benar-benar sampai ke Madinah. Selang beberapa waktu mereka kembali ke Rumah Sakit bersama bapaknya untuk melihat perkembangan keadaannya. Terjadilah sebuah keadaan yang sangat mengagetkan!!

Diagnosa menunjukkan bahwa sang bapak telah selamat dari kegagalan ginjal. Sang bapak dan anak-anaknya pun merasa aneh, lalu mereka pergi ke Rumah Sakit lain untuk melakukan diagnosa, dan hasilnya adalah keselamatan sang bapak dari kegagalan ginjal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyembuhkannya. Karena dia telah melepaskan kesulitan gadis tersebut, maka Allah mengeluarkannya dari kesulitan dan menyembuhkannya karena sebab gadis tersebut. Ini adalah takdir Allah yang Maha Agung.

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ....

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Selamat Jalan Permataku







“Dan aku akan menguji kamu sekalian dengan suatu cobaan, supaya dengan cobaan itu dapat terbukti siapa di antara kamu sekalian yang berjuang dan siapa yang sabar.” (QS. Muhammad: 31).

Aku dan istriku adalah keluarga yang bahagia, banyak rizki dan penuh rahmat. Hampir enam tahun kami menikah dan selama itu pula kami hidup bahagia tanpa cekcok dan pertengkaran. Apalagi sejak kami tahu bahwa Allah akan memberikan adik bagi Amalia Fauziah Rohmah, anak pertama kami. Sembilan bulan kemudian kami sibuk dengan segala persiapan untuk menyambut kelahiran anak ke-2 kami, mulai dari nama, ranjang bayi, popok dan lainnya. Menurut hasil USG jenis kelaminnya adalah laki-laki. Kami pun sudah mempersiapkan nama, Muhammad Syarif Salahuddin Rasyid.

Sampai akhirnya tiba hari melahirkan bagi istriku. Saat itu, Senin malam tanggal 20 Agustus 2001, istriku merasa perutnya mulai kejang. Pagi harinya ia kontrol ke rumah sakit. Dokternya menyarankan agar hari itu juga istriku masuk ke ruang persalinan, karena perkiraan melahirkan sudah lewat 10 hari. Namun istriku minta ditunda sampai hari Rabu karena akan bicara dulu denganku. Akhirnya, tiba juga hari yang mendebarkan bagiku sebagai seorang ayah. Rabu pagi kuantar istriku ke rumah sakit dengan membawa barang untuk persiapan melahirkan. Lalu aku kembali ke karena dokter rupanya baru akan memasukkan obat pemacu kelahiran pada sore harinya.

Sore aku kembali ke rumah sakit. Ibu mertua dan saudara-saudara iparku sudah di sana lebih dulu. Kata istriku, obat pemacunya sudah disuntikkan dan ia baru saja selesai salat Isya. Namun saat akan
kembali lagi ke tempat tidur, tiba-tiba air ketubannya pecah. Oleh tim medis persalinan dipasanglah alat rekam jantung janin. Alhamdulillah janin dalam keadaan normal.

Istriku mulai merasa sangat kesakitan. Aku hanya dapat membelai rambutnya, memijit pelan punggungnya sambil memberikan dorongan untuk sabar dan bertawakal. Selamat beberapa jam, kami dibiarkan berdua saja, tanpa bantuan medis. Barulah sekitar jam 10 malam, muncul 2 bidan dan beberapa dokter Ko-As. Bersama ibu mertua dan para ipar, aku pun menunggu di luar ruangan persalinan. Yang mengejutkan, jam 12 malam, dokter Ko-As berlari dan menggedor pintu dokter. Tak lama, dokter wanita berlari ke ruang persalinan dan istriku dikeluarkan dari ruang persalinan.

Awalnya kami mengira istriku sudah melahirkan dan akan dipindahkan ke bangsal. Tetapi, alangkah kagetnya saat aku disodorkan surat persetujuan untuk melakukan operasi. Setelah beberapa menit duduk di ruang tunggu, salah satu tim medis memintaku untuk mencari darah donor ke PMI sambil memberikan contoh darah istriku. Sekitar satu jam kemudian barulah aku memperoleh darah yang dibutuhkan itu. Sekitar jam 2 dini hari, dokter wanita yang menangani istriku memberikan penjelasan bahwa bayiku tidak bisa diselamatkan. Malahan dia meminta persetujuanku agar kandungan istriku juga diangkat karena perdarahan tidak bisa berhenti.

Sambil berusaha untuk tabah aku setuju. Perasaanku sebagai ayah dan suami berkecamuk. Anak laki-lakiku tidak bisa tertolong, kandungan istriku harus diangkat pula. Tetapi apa yang dapat kulakukan kecuali sabar, pasrah, dan bertawakal?

Ujian Allah ternyata belum berakhir. Meskipun kandungan istriku telah diangkat dan ia telah dipindahkan di ruang ICU, perdarahan belum juga berhenti. Lima orang petugas ICU bekerja keras menangani istriku yang mengalami perdarahan hebat. Pernafasannya istriku pun mulai melemah, sehingga harus dibantu dengan alat pemompa. Kutunggui isteriku terus menerus. Bahkan, pemakaman anakku pun tak sempat kuikuti.

Hampir 4 jam penuh tim medis ICU bekerja keras menangani kondisi istriku. Untuk mengimbangi banyaknya darah yang keluar, darah donor dipompakan ke dalam tubuh istriku. Tempat tidur dan lantai sekitar pembaringannya kini berubah merah. Sekitar jam 8 pagi, tim medis memberitahu bahwa mereka akan melakukan pembedahan ulang untuk mencari penyebab perdarahan hebat tersebut.

Satu jam kemudian istriku kembali terkulai di kamar operasi siap dibedah ulang. Tetapi karena lemahnya kondisi istriku, tim dokter tidak berani melakukannya. Akhirnya istriku dibawa lagi ke ruang ICU.

Perdarahan belum juga terhenti, padahal tim medis ICU sudah kelihatan letih. Ba’da maghrib aku diberi tahu bahwa mereka telah berusaha keras menangani perdarahan istriku dengan segala daya meski belum berhasil.

Malam pun larut. Aku membaca surat Yasin di samping istriku. Aku tahu istriku sadar dan mendengarkan bacaan itu, meski kondisi tubuhnya tidak memungkinkannya berkomunikasi. Tangan istriku mencari-cari suaraku, lalu kugenggam tangannya sambil terus aku bacakan Yasin. Itulah bacaan Yasin tersedih dalam hidupku, sampai-sampai saudara- saudaraku menangis tersedu-sedu. Apalagi ketika sampai pada lantunan doa Allahumma hawin `alaina fi-syakarotil maut, tanpa sadar aku melelehkan air mata.

Hari terus berlalu, usaha tim dokter ICU sudah maksimal, Yasin dan doa telah kami lantunkan, tapi kondisi istriku semakin memburuk.Akhirnya aku tidak lagi memohon kesembuhan, tetapi memohon pada Allah agar diberikan jalan terbaik.
Rupanya, hati dan ginjal istriku tidak kuat menetralkan 100 botol darah donor yang masuk ke tubuhnya. Tes hati dan ginjal semakin lama mengarah pada kegagalan kedua organ itu. Tanggal 2 September 2001, istriku menutup mata untuk selama-lamanya.

Selamat jalan istriku, selamat jalan anakku. Semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan tiada tara di alam selanjutnya. Sesungguhnya segalanya kepunyaan milik Allah, dan hanya kepada Allah-lah segalanya
akan kembali.

Sumber: Penulis: Choirul Amri, S.TP *Staf Pengajar Politeknik Kesehatan Yogyakarta dan Analis Laboratorium RSKB Patmasuri Yogyakarta, sebagaimana dimuat di Majalah Ummi.

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Renungan : Roda

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei....semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

===

Saudara-Saudariku yg baik, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Saudara-Saudariku yg baik, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!! 

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

-=[Inilah Mukjizat Islam Terbukti Kebenarannya di Abad Modern]=-


Mukjizat Ke-11: (Tentang Penciptaan Bintang)

Allah Yang Maha Suci dan MahaTinggi berfirman,

فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (Al-Waqiah : 75-76)

Kenapa Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan tempat peredaran bintang?

Setelah pengetahuan manusia maju, tampaklah apa yang diberitakan Allah SWT lewat lisan Rasulullah SAW dalam penemuan ini.

Para ilmuwan berkata, Tempat peredaran bintang-bintang merupakan perkara yang agung bagi manusia. Jarak antara bumi dan matahari diperkirakan sekitar 150.000.000 km. bintang yang berjarak paling dekat dengan kita yang berada di luar gugusan matahari (Alpha Centaurus) diperkirakan berjarak sekitar 4,3 kali kecepatan cahaya, sementara satu tahun kecepatan cahaya diperkirakan sekitar 9.500.000 km.sehingga jika cahaya keluar darinya, maka cahaya tersebut baru akan sampai kepada kita setelah lebih dari lima puluh bulan. Dalam jangka waktu itu bintang tersebut telah bergerak bergeser dari tempatnya denganjarak yang jauh sekali. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa apabila manusia memandang bintang secara langsung, niscaya dia akan kehilangan penglihatan.

Karena bintang yang kita lihat pada kegelapan langit, hanyalah tempat peredaran yang dilalui bintang.

Mukjizat Ke-12 : (Black Holes)

Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan bintang-bintang. Dia berfirman.

فَلا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

"Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang (yang bersembunyi (di siang hari),Yaitu bintang-bintang yang beredar dan menyapu. (At-Takwir : 15-16)

Ayat ini menggambarkan kita bahwa di antara bintang-bintang yang ada di langit adalah bintang-bintang yang menyapu, dan para ahli astronomi telah menyebutkan hal itu. Seorang ilmuwan Amerika menggambarkan bintang-bintang black holes dengan ungkapannya, Ini adalah penyapu-penyapu raksasa langit yang menghisap, yang tinggi, dan pemakaian Al-Quran Al-Karim bagi bintang-bintang ini dengan istilah bintang yang beredar dan menyapu adalah lebih mengena.


Mukjizat ke-13 : (Siang dan Malam)

Ilmu modern telah menyingkap bahwa malam menutupi bumi dari segala penjuru,dan menyerupai lapisan tipis yang mirip seperti kulit. Apabila bumi berputar, maka pada siang hari lapisan tipis tersebut lepas. Sehingga dengan perputaran ini terjadi pengulitan siang dari malam. Allah telah menggambarkan penemuan ini dalam ayat berikut. Allah SWT berfirman:

وَءَايَةٌلَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan." (Yaasin : 37)

Mukjizat Ke-14 : (Pandangan yang Semakin Kabur)

AllahSWT berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ. لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُنَ

"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir."" (Al-Hijr : 14-15)

Ketika para astronot telah keluar dari batas terang dan masuk ke dalam kegelapan alam, mereka pasti mengatakan sesuatu yang hampir sama dengan ungkapan ayat Al-Qur'an tanpa mereka ketahui.

إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا

"Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan" (Al-Hijr : 15). Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Rasulullah SAW.

Mukjizat Ke-15 : (Pintu-pintu Langit )

Belakangan, para ilmuwan membuktikanbahwa langit tidaklah hampa, akan tetapi merupakan bangunan kokoh berisikan material dan energi, dan tidak mungkin diterobos kecuali melalui pintu-pintu yang dibuka. Dan inilah yang disebutkan oleh Al-Qur'an di sela-sela ayat ini. Allah SWT berfirman :

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ

"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya," (Al-Hijr : 14)


Mukjizat Ke-16 : (Dada Semakin Sesak Ketika Naik Ke Udara)

Para ilmuwan berkata bahwa perubahan besar pada tekanan udara yang terjadi ketika naik ke angkasa menjadikan dada manusia sesak dan sempit. Blits Pascall, seorang ilmuwan ternama, menyatakan bahwa tekanan udara akan semakin berkurang setiap kita semakin jauh dari permukaan bumi. Dan Allah telah memberitakan dalam ayat ini, apa yang akan terjadi pada manusia jika dia naik ke angkasa. Allah SWT berfirman :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْأَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُفِي السَّمَاءِ

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit." (Al-An'am : 125)

Mukjizat Ke-17 : (Benda Langit Berjalan Menurut Garis Edar)

Allah SWT berfirman :

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

"Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. " (Yaasin : 40)

Kepler, seorang ahli astronomi, menemukan bahwa matahari dan planet-planet lain yang mengikutinya beredar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan. Pada abad 19 M, seorang astronom, Richard Carrington, dia menemukan bahwa matahri danplanet-planet yang mengikutinya, keseluruhannya berputar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan dan keseimbangan tertentu. Hal ini sesuai dengan firmanNya :

كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى

"Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan." (Az-Zumar : 5)

Mukjizat Ke-18 : (Hujan)

Para astronot menemukan bahwa lapisan atmosfer bumi berfungsi mengembalikan air yang telah menguap ke bumi dalam bentuk hujan melalui perputaran yang terus menerus yang disebut dengan siklus penguapan air. Allah telah bersumpah dengan ayat ini, dan Dia berfirman,

وَالسَّمَاءِ ذَاتِالرَّجْعِ

"Demi langit yang mengandung hujan" (Ath-Thariq : 11)

Tafsir ayat ini menyebutkan bahwa langit mengembalikan hujan pada setiap tahun.

Mukjizat Ke-19 : (Tentang Kilat )

Pada 1985 M, di Amerika dilakukan kajian tentang kilat dan bagaimana proses terbentuknya. Merka menemukan kilat terbentuk dari es. Rincian ini telah diberitakan Allah kepada kita dalam surat An-Nur. Allah SWT berfirman :

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُعَنْ مَّنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ

"dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (An-Nur : 43)

Makna سَنَابَرْقِهِ adalah سَنَابَرْقِ الْبَرَدِ (kilauan kilat es)

Mukjizat Ke-20 : (Adzan di Bulan )

Astronot pertama yang berhasil mendarat dipermukaan bulan bernama Armstrong. Dia mengumumkan keislamannya ketika dia menziarahi Kairo. Dalam perjalanannya berkeliling dunia, dia mendengar adzan Zhuhur. Dia bertanya-tanya di tengah rasa kagetnya disebabkan suara itu, maka orang-orang mengatakan, "Itu suara mu'adzin yang mengingatkan kaum Muslimin waktu shalat." Maka dia mengumumkan kepada orang-orang yang adadi sekelilingnya bahwa alunan adzan yang didengarnya dalah sama persis dengan alunan yang didengarnya ketika pertama kali menginjakkan kudua kakinya di atas permukaan bulan."

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ....

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

... SEBONGKAH MAAF YANG TERABAIKAN ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... "Oh Tuhan, aku benar-benar menyesal, aku benar-benar malu" dengan suara serak dan parau selalu terucap samar-samar dalam kata-kata di akhir hayat suamiku. Penyesalan yang berakhir tragis dalam kematian.

Dahulu, di kampungku, ada seorang dokter yang berhati sangat mulia. Beliau adalah sosok yang rendah hati, karena tumbuh dan dibesarkan oleh seorang ibu tanpa ayah yang harus membanting tulang sendiri untuk membesarkan anak-anaknya.

Di perjalanan hidupnya, ia tertarik dengan seorang gadis anak Bupati, namun gadis tersebut menginginkan syarat, Ia ingin suaminya adalah seorang dokter, bila tidak pupuslah harapannya untuk bisa bersanding dengannya. Karena teramat cintanya kepada gadis tersebut, dengan gigihnya dirinya mampu menjadi seorang dokter. Akhirnya menikahlah ia dengan gadis sang pujaan hati.

Di tengah menjalani kehidupan mahligai rumah tangganya, ia tak pernah meminta bayaran sedikitpun kepada kaum dhuafa, pun kepada tetangga dekatnya juga demikian. Setiap hari ia melayani pasien yang jumlahnya tidak sedikit.

Meski pasiennya banyak yang gratis, ia tak pernah membeda-bedakan mana pasien yang tidak membayar dan mana pasien yang membayar. Ia menjadi sosok yang amat dicintai dan disayangi di kampungku itu. Karena kebaikannya itulah hingga kini namanya diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit di daerah tersebut, sebagai bentuk untuk mengenang jasa-jasa semasa hidupnya.

Sang Dokter memiliki beberapa orang pembantu untuk mengurusi rumahnya, untuk membersihkan rumahnya, mencuci pakaian, atau memasak dan aneka pekerjaan rumah lainnya. Suamiku dulu adalah salah seorang pembantu di rumah sang dokter itu. Begitu perhatiannya Sang Dokter yang mau menyekolahkan semua pembantunya. Padahal di jaman sekarang ini sangatlah jarang pembantu yang mendapat perlakuan khusus seperti itu.

Meski demikian, Sang Dokter seakan tak pernah peduli akan apa yang telah dikerjakan oleh suamiku, pun suamiku lebih banyak menghabisi makanan yang ada di kulkasnya ketimbang mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya. Suamiku agak pemalas, mungkin karena merasa pekerjaannya bisa dikerjakan oleh pembantu yang lainnya.

Suatu ketika sekotak perhiasan emas milik istri Pak dokter raib entah tidak diketahui keberadaannya. Begitu cemasnya, ia merasa kotak perhiasan emasnya itu adalah satu-satunya benda yang paling berharga. Akhirnya, ia melaporkan kejadian itu kepada yang berwajib. "Lebih baik diserahkan kepada yang berwajib daripada mengira-ngira siapa pelakunya" begitulah istri pak dokter berharap cemas. Lalu selang beberapa jam kemudian datang petugas polisi ke rumah tersebut. Polisi tersebut membawa para pembantu ke kantor polisi untuk segera diintrogasi. Pun termasuk suamiku.

Namun, Belum 24 jam, Istri Pak Dokter telah mengetahui sang pelaku, yang mengambilnya adalah adiknya sendiri yang kala itu berkunjung ke rumahnya. Buru-buru ia menelpon kembali ke kantor polisi. Ia meminta maaf kepada seluruh pembantunya satu persatu."Saya minta maaf, semua itu adalah prosedur dari kepolisian" mencoba menjelaskannya.

Satu demi satu semua pembantu memaafkannya. Dan pada saat giliran meminta maaf pada suamiku, mata suamiku terbelalak tajam seperti akan menerkam seekor mangsa."sampeyan ga' pantes minta maaf, aku tidak sudi memaafkan sampeyan" kata-katanya keras tidak seperti biasanya. Bahkan yang lebih dasyat lagi ia sampai menendang istri sang dokter itu hingga bu dokter sempat mundur beberapa langkah namun mampu berdiri kembali. Tangan istri pak dokter dilepas jauh-jauh dari gengamannya seakan-akan tangan yang ada di depannya itu tangan yang penuh oleh kotoran najis.

Sontak peristiwa itu membuat kaget semua mata. Suasana yang awalnya haru biru, kini berubah menjadi sebuah ketegangan. Bagaimana tidak ? Baru kali ini ada seorang pembantu yang dengan angkuhnya berani menendang majikannya. Sambil menunduk dengan muka penuh amarah suamiku pergi menuju kamar pembaringannya di rumah dokter itu.

Mungkin suamiku benar-benar marah, ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak, karena telah dituduh sebagai pencuri. Namun anehnya, tak ada kemarahan dari istri sang dokter. Wajahnya yang berkulit kuning langsat, bersih dan ayu seakan sepadan dengan ketulusannya menerima perlakuan dari pembantu, suamiku yang tak pernah tau berterima kasih itu. Ia benar-benar memakluminya.Pasca kejadian itu, suamiku masih bekerja di rumahnya seperti biasa dan masih bersekolah dengan biaya Pak Dokter pula. Kehidupan berjalan seperti biasanya.

Suatu hari, suamiku sakit. Namun, sakitnya tak kunjung sembuh, hingga ia tak mampu lagi melakukan apa-apa. Suamiku pamit untuk pulang ke kampung halamannya."Kamu ndak usah pulang ke kampung, biar di sini saja, nanti tak panggilkan mantri untuk mengurusimu, mengenai istrimu, biar kalau dia mau, juga tinggal di sini bersamamu." dengan raut wajah penuh keikhlasan, Pak Dokter mencoba menawarkan untuk tetap tinggal di rumahnya."Iya, Pak Dokter benar ", istri Pak Dokter menimpali."Istri saya minta saya pulang aja Pak.....Bu......" suamiku tetap pada pendiriannya.

Ia akhirnya harus meninggalkan rumah sang dokter, kembali bersama keluarga namun dalam keadaan sudah tak mampu melakukan aktifitas apapun. Sejak kedatangannya ke kampung halamannya, Sang Dokter yang berjiwa besar itu mengutus seorang mantri sebagai perawat untuk mengurusi suamiku. Sakit lepra yang diderita suamiku seakan sedang menyiksanya. Begitu teramat parahnya, hingga salah satu kaki suamiku akhirnya harus mau untuk diamputasi. Ada banyak tangis di saat prosesi amputasi kaki suamiku. Terlebih aku, hingga aku terjatuh tak ingat apa-apa lagi, rupanya aku pingsan beberapa jam. Suamiku berteriak histeri saat melihat kakinya telah hilang.

"Pak, istighfar Pak" aku berada di sampingnya berusaha untuk menenangkannya. Namun suamiku tetap saja masih belum mau menerima kenyataan itu, hingga akhirnya tak sadarkan diri dalam beberapa jam. Aku hanya mampu menangis di atas tubuhnya yang diam terbujur di ranjang kasur rumah sakit.

Hingga datanglah hari berkabut, hari dimana duka menyelimuti kami, suamiku pergi untuk selamanya. Menunggu babak akhir dari lelah akan sakit yang telah mengeram lama dalam dirinya.

Sempat ia meneteskan air mata."Mbok'e, aku ndak punya malu...... aku memang salah " dia bertutur kepadaku dengan wajah yang iba."Pak, yang sabar, mintalah kepada Yang Kuasa", kucoba menenangkan hati suamiku. Namun tiba-tiba ia mengerang keras seperti ketakutan. Keras sekali, membuat kamar kami bergema karenanya. "Inna lillahi, wa inna illaihi rooji'un" , Segera kututup mata suamiku setelah mengetahui dirinya telah tiada.

Selang beberapa jam kemudian, Keluarga Pak Dokter datang melayat. Seketika datangnya Pak dokter dan istrinya, buru-buru aku mencium lutut ibu dokter itu."Pak....Bu..... Maafkan suami saya" pintaku kepada ibu dan pak Dokter dengan mata berkaca-kaca. Aku diselimuti oleh rasa malu tiada berperi, hingga pandanganku tak mampu lagi kuhadapkan kepadanya.

Pak Dokter menepuk bahuku, ia meminta aku untuk berdiri kembali."Saya dan ibu telah memaafkannya. Mudah-mudahan Tuhan memaafkannya pula" Pak Dokter tampak sedih seakan benar-benar memaafkannya. Istri pak Dokter hanya mengangguk sambil memeluk tubuhku yang dingin, pertanda ia telah memaafkannya juga. Suamiku yang kini telah terbujur kaku, menunggu peradilan Tuhan yang kami tidak mengetahuinya.

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ....

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/